
7 Desember 2008 / 9 Dzulhijjah 1429
1 Hari sebelum Iedul Adha……mencoba mendatangi beberapa titik yang tidak akan sempat dikunjungi pada saat penyembelihan. Terdapat 13 titik rencana sebaran hewan kurban :
- Tamontaka, Cotabato City, 1 Sapi
- Sapalan, Dato Oedin Sinsuat, Maguindanao, 1 Sapi
- Barrio Muslim, Guindulungan, Maguindanao, 1 Sapi
- Maitum A-ig, Shariff Aguak, Maguindanao, 2 sapi
- Pikit, North Cotabato, 2 sapi
- Midsayap, North Cotabato, 2 sapi
- Biniruan, Cotabato City, 1 sapi
- Magelco Evacuation Centre, 2 sapi
- Kiteb Evacuation Centre, 2 sapi
- Saibo, Dato Saudi, Maguindanao, 3 sapi
- Kakor, Cotabato City, 2 sapi
- Madia, Dato Piang, Maguindanao, 9 sapi
- Lumbatan, Lanao del Sur, 2 sapi
No 2 – 6 akan dikunjungi sebelum hari raya kurban
Perjalanan menuju 3 titik, Sapalan, Guindulungan, dan Maitum aig sharif, dari Cotabato City menuju arah kota General Santos. 2 hal yang banyak terlihat sepanjang perjalanan ini, evacuation centre, tempat para pengungsi di pinggir jalan, persis seperti di Aceh pasca Tsunami, dan check point atau pos pemeriksaaan oleh tentara Filipina. Dan ternyata jumlah tersebut belum seberapa, ketika masuk ke jalan kecil, masuk ke desa, akan ditemukan titik-titik pengungsian lagi dan beberapa markas kecil tentara.
Masuk ke daerah Sapalan, mobil tidak bisa sampai ke lokasi penyembelihan dan lokasi warga calon penerima manfaat. Akhirnya harus berjalan kaki selama kurang lebih 10 menit. Untuk melayani Saya, mungkin maksudnya mitra kita supaya tidak lelah karena dalam situasi shaum (Arafah, 9 Dzulhijjah), warga membawa 1 ekor Sapi itu ke tempat parkir mobil. Rupanya mereka belum paham kebiasaan kami dari DD, setelah Saya jelaskan, akhirnya Kami berjalan dan mengembalikan sapi ke tempatnya semula dan Saya dapat melihat komunitas calon penerima manfaat. Nun jauh di ujung desa terdapatlah pemukiman sederhana dengan masjid yang sangat sederhana, di masjid inilah akan dilakukan proses penyembelihan dan pembagian hewan kurban. Terdapat 40-50 KK calon penerima manfaat.
Setelah itu kami menuju ke Guindulungan, sepanjang perjalanan lagi-lagi ditemukan betapa banyak evacuation centre dan check point. Tempat pengungsian calon penerima manfaat tak dapat ditempuh dengan mobil, harus berjalan kaki, namun sangat jauh, lebih dari 1 jam perjalanan. Dengan waktu yang terbatas, Kami memutuskan tidak mengunjungi tempat penyembelihan, namun setidaknya sapi sudah diverifikasi. Demikian pula dengan kawasan Maitum A-ig Shariff Aguak. Disini disalurkan 2 sapi, karena jumlah keluarga di evacuation centre lebih banyak.
Setelah istirahat siang hari, kami meluncur ke Pikit, Sebelah Utara Cotabato, kami meluncur ke arah Davao City. Satu jam perjalanan kami menuju Pikit, 2 sapi sudah tersedia di Pikit, langsung mengunjungi lokasi penerima manfaat. Jalan terputus oleh sungai yang mengalir, mobil tidak bisa lewat, akhirnya harus berjalan kaki, ternyata banyak sekali pengungsi di dalam, setelah melewati sungai. Mitra di sana berencana menyembelih di lokasi pinggir jalan agar tidak kesulitan membawa sapi ke lokasi pengungsian. Lalu tinggal mendistribusikan mentahnya ke pengungsian. Hal ini segera saya ralat, karena kurang sesuai dengan misi program THK, saya jelaskan bahwa THK tidak hanya sekedar membagi daging kurban, namun juga berupaya menumbuhkan spirit dan semangat dan semarak hari raya kurban di komunitas, sehingga saya berharap sapi dapat dibawa melewati rintangan agar dapat menambah ruh dan semangat hari raya bagi warga di pengungsian. Alhamdulillah mitra di sana paham dan akan segera merubah rencana aktivitasnya.
Segera kami meluncur ke Midsayap, salah satu daerah yang sering terjadi kontak senjata, karena waktu menjelang maghrib……….
1 jam perjalanan mobil menuju Midsayap, dilanjutkan dengan 20 menit perjalanan kaki, karena harus mobil off road yang dapat masuk ke lokasi pengungsian disana.
Ternyata warga di sana belum pernah mengadakan penyembelihan hewan kurban, DD melalui THK telah memulai prosesi kurban disana. Saya sampaikan bahwa ini sebagai bentuk persaudaraan dari Muslim Indonesia, walau di Indonesia masih banyak Saudara yang miskin, namun kami tetap ingin berbagi dengan Saudara di Mindanao, dengan bangsa Muslim Moro.
Tugas panjang berikutnya menanti, dakwah bagi masyarakat muslim Moro. Anak-anak di pengungsian masih tidak tersentuh dengan dakwah, mesjid masih kosong dikala waktu shalat. Masih banyak yang belum bisa membaca AlQuran, tidak ada TPA di pengungsian…..
Insya Allah kurban saat ini akan menjadi stimulus dakwah di sana…………….

No comments:
Post a Comment