Sunday, December 21, 2008

Mindanao Edisi ke 3


8 Desember 2008 / 10 Dzulhijjah 1429
Jam 05.45 saya dijemput, harus segera menuju tempat shalat ied, di Cotabato City Hall. Kami tiba jam 06.00, tempat belum terlalu ramai, masih sepi.Seperti lazimnya di Indonesia, aktivitas diisi dengan takbir, yang uniknya dipimpin seperti vocal group, ada 4 orang berdiri di depan dengan standing mic tanpa mimbar. Sebelum dimulai, walikota memberikan sambutan, Dato Muslimin G Sema. Walikota memberikan sambutan dalam 2 bahasa, Moro dan Inggris. Penyampaian dalam bahasa Moro tanpa teks, ketika menyampaikan dalam bahasa Inggris menggunakan teks, saya perhatikan, awalnya isinya normative, mengingatkan tentang hakikat ibadah kurban, sampai di tengah sambutan, tiba tiba beliau menangis sebentar, lantas melanjutkan dengan kata-kata yang sangat tidak diduga, beliau mengatakan ungkapan dukungan kepada para mujahidin yang sedang berada di gunung, berperang dengan tentara Filipina. Saya sempat kaget, karena di luar sangat banyak tentara yang mengawal shalat iedul adha, sudah masuk kategori maker kalau di Indonesia. Saya bertanya kepada Habib, is it legal he said that? Habib hanya mengatakan he is legal person, so no problem he said like that.
Khatib menyampaikan khutbah dalam bahasa Moro, kelihatannya isinya normative juga, kecuali pada saat terakhir, nadanya meninggi dan terus menyebut-nyebut kata kata Moro. Langsung saya Tanya ke habib, habib menjawab, khatib mengatakan bahwa teruslah berjuang wahai bangsa Moro, untuk meraih kemerdekaan! Hebat juga, Di Aceh saja GAM tidak seperti itu sebelum MoU Helsinki ditandatangani.
Perjuangan bangsa muslim moro memang sangat sangat panjang. Hampir selama 40 tahun, contoh daerah dengan mayoritas Muslim, bahkan sampai tahun 1950 hampir 100% Muslim, saat ini 75%, Cotabato City, dipimpin oleh walikota beragama Kristen. Gelombang migrasi masyarakat Kristen dilukiskan seperti kran air, berdatangan terus, nama-nama jalan hampir tidak ada yang berasal dari bangsa Moro. Dengan perjalanan panjang, angkat senjata, diplomasi dan lain-lain, akhirnya terbentuklah ARMM (Autonomous Region Muslim Moro), yang saat ini walikota Cotabato City dipimpin oleh seorang Muslim, yang berasal dari faksi MNLF (Moro National Liberation Front), organisasi yang didirikan oleh Nur Misuari yang saat ini telah tinggal di Manila. MNLF sendiri telah kalah pamor oleh MILF (Moro Islamic Liberation Front) karena dinilai berkompromi dengan pemerintah Filipina. Kurang lebih mirip dengan antara PLO dan Hamas di Palestina.
Agustus tahun ini seyogyanya akan menjadi awal otonomi luas bagi bangsa Muslim Moro, dengan ditandatanganinya MOA AD (Memorandum of Agreement Ancestral Domain) antara Pemerintah dengan MILF di Malaysia. Sayangnya, MOA AD ini dibatalkan oleh Supreme Court Filipina, sehingga tidak berlaku. Inilah awal ulangan bencana bagi bangsa Muslim Moro, kontak senjata sering terjadi antara Mujahidin MILF dengan tentara Filipina. Akibat peperangan ini, sekitar 600.000 orang mengungsi yang tersebar di beberapa tempat pengungsian atau evacuation centre. Itulah alasan mengapa sepanjang jalan terus terlihat betapa banyak titik pengungsi dan juga check point tentara. Bagaimana ujungnya, belum terlihat……..Ini juga yang mendasari alasan saya harus dikawal polisi intelejen disini, for security, kata si polisi yang mengawal saya. Minusnya, gerakan menjadi terbatas, saya kerap dihubungi, baik via SMS maupun telepon oleh polisi-polisi ini apabila Saya jalan sendiri atau terdengar akan berencana jalan sendiri.
Setelah Shalat iedul Adha, Saya berkesempatan bertemu dengan walikota secara khusus di ruangannya. Beberapa hal kami bincangkan, mulai dari harapan beliau tentang masuknya investor ke Cotabato, sampai saya mengungkapkan kesedihan Saya dengan kondisi atmosfer ke Islaman yang kurang terlihat, padahal mayoritas masyarakat beragama Islam. Jarang terdengar adzan sahut menyahut, bahkan malam menjelang iedul adha tidak ada takbir sama sekali, malahan lebih heboh aktivitas gereja, dengan kembang apinya menyambut acara Immaculada Conception, Pra Natal. Saya sempat menyangka kembang api itu adalah menyambut iedul Adha.
Beliau menyadari tantangan dakwah tersebut. Saya ingin katakan bahwa sebagai tahapan awal sebaiknya dibuat suatu lembaga yang professional yang dapat menjalankan program-program untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat, seperti program-program LAZ di Indonesia. Beliau hanya fokus pada kekurangan dana untuk melaksanakan program, dan ketidakmungkinan mengandalkan dana dari internal Cotabato, seperti tidak mungkin menghimpun dana zakat di sini. Saya katakan bahwa dana bukan masalah, tahap awal bisa dari luar, hanya problemnya adakah lembaga di sini yang bisa dipercaya mengelola dana dari luar? Dipercaya karena kemampuannya/keahliannya dan keamanahannya. Untuk itulah Saya mewakili DD mengundang beliau untuk menghadiri World Zakah Forum di Yogyakarta pada tahun 2009.
Lembaga asing, jangan ditanya lagi, cukup banyak disini. Yang paling menonjol adalah USAID, JICA dan Rotary Club, insya Allah sudah terbaca lah apa maksudnya masuk ke Mindanao ini yang mayoritas muslim. Bayangkan, untuk membangun pasar square saja harus berasal dari USAID. Satu lokasi yang sempat saya kunjungi, pengungsian di Midsayap yang saya ceritakan di atas, mendapatkan bantuan dari OXFAM untuk pengadaan air dan sanitasinya. Dimanakah lembaga-lembaga islam sebagai Saudara mereka? Yang jelas tidak ada lembaga Islam yang eksis dengan kemampuan menggalang dana yang besar dari internal Filipina. Sudah sepantasnya lembaga Islam dari negara lain untuk membantu, tidak usah khawatir dicap teroris, tinggal bermain legal berhubungan dengan walikota atau birokrasi yang muslim.
Setelah itu saya menuju tempat penyembelihan kurban…
Magelco Evacuation Centre menjadi tujuan pertama Saya. Magelco adalah nama perusahaan listrik, disebut demikian karena dekat dengan lokasi penyedia listrik. Disini disembelih 4 sapi, 2 sapi untuk lokasi evacuation centre di Magelco, 2 lagi untuk di lokasi Kiteb. Alhamdulillah prosesi kurban berjalan lancer, begitu pun dengan distribusinya. Khusus di Kiteb, distribusi kurang lancer, terlihat masyarakat masih berebut dan kurang siapnya tim merespon situasi. Namun Alhamdulillah semua terkendali pada akhirnya. Saya langsung memimpin evaluasi intensif tentang kejadian ini dengan tim local. Lokasi kedua, bukan evacuation centre, di Biniruan, pelosok dari Cotabato City. Kedatangan langsung disambut oleh masyarakat, kaum Bapak dan anak-anak. Datang seorang Bapak dengan bahasa Indonesia yang cukup fasih, ternyata istrinya orang Indonesia, campuran keturunan Jawa dan Zamboanga. Tempat dengan hampir seluruhnya muslim ini belum pernah ada kurban! Padahal masih di Cotabato City. Mereka diajak untuk bertakbir sebelum prosesi kurban dilakukan. Terdengar asing bagi mereka, dan malu-malu mengikuti takbir. Setelah selesai, terlihat seorang Bapak dengan wajah preman berkaca-kaca, terlihat menahan tangis. Tak lupa mereka berpesan agar tahun depan dapat dilakukan prosesi kurban kembali.

No comments: