Monday, January 5, 2009

MINDANAO SERI 4


9 Desember 2008 / 11 Dzulhijjah 1429

Direncanakan mengunjungi 2 titik terbesar dalam distribusi kurban, 12 ekor sapi dari 30 ekor, Madia (Datu Piang) dan Salbo (Dato Saudi). Untuk pemerataan, dari 2 titik ini diperlebar menjadi 6 titik. Dari 9 sapi yang direncanakan untuk Madia, Datu Piang dipecah menjadi 3 sapi tetap untuk MAdia evacuation centre, 3 Sapi untuk Pagatin evacuation centre, 1 sapi untuk di mahaad saadah al arabie (masih di sekitar Pagatin), 1 sapi untuk di Damabalas, sebuah sekolah dengan 50 anak yatim piatu orang tua meninggal karena korban perang, dan 1 sapi lagi untuk daerah Buayan. Untuk daerah Salbo (Datu Saudi) tetap dialokasikan 3 ekor sapi.

Ada hal yang aneh selama perjalanan, terdapat rombongan tentara dalam jumlah besar menuju arah yang sama dengan kami, bahkan terdapat beberapa kendaraan tank. Saya hanya berfikir mereka akan melakukan latihan di suatu tempat.

Tempat pertama prosesi kurban adalah di Pagatin, kami terpaksa melakukan prosesi di halaman tempat usaha pembuatan meubelair milik salah seorang warga, karena mitra khawatir terjadi kekacauan apabila dipaksakan di tempat pengungsian. Walau demikian, suasana tetap syahdu, cukup banyak warga yang berkumpul, apalagi bobot sapi yang lumayan besar membutuhkan banyak tenaga untuk prosesi. Jelas terlihat mereka sangat canggung membuat prosesi kurban, menggulingkan sapi saja membutuhkan waktu hampir 5 menit. Akhirnya berhasil juga. Setelah selesai 3 sapi disembelih, Kami segera meluncur ke Madia (Datu Piang) untuk melakukan prosesi serupa. Sebelum meninggalkan Pagatin, Sister Fatima, salah satu tim local berbisik kepada Saya, dia mendapat kabar bahwa sedang terjadi pertempuran, kontak senjata, tidak jauh dari lokasi ini. Saya menanggapi biasa saja, karena tidak terlihat dan terdengar apa pun. Sampai di Madia, suasana pengungsian lebih terasa, jumlah sangat banyak. Namun jelas terasa hampir sama dengan seluruh lokasi kurban di Mindanao, tidak ada atmosfer penyambutan yang luar biasa, karena mereka tidak terbiasa dengan ibadah kurban. Tidak pernah ada pekurban local yang berkurban di lokasi mereka sebelumnya dan di lokasi pengungsian ini. Namun setelah mereka melihat kami akan menyembelih sapi berduyun-duyun datang melihat. Di setiap tempat Saya berusaha menstimulus suasana dengan basmalah dan takbir, sebagai upaya mensosialisasikan ritual kurban. Alhamdulillah walau agak canggung mereka ikut juga.

Saat Kami sibuk melakukan prosesi kurban, sayup-sayup mulai terdengar suara ledakan, brother habib tanya, are you listen the bomb ya akhee? Thebomb? Is it a bomb? Tanya saya. Ternyata memang benar suara bom, terdengar berulang-ulang. Tapi masyarakat disini sepertinya sudah terbiasa dan terus memperhatikan ritual kurban. Setelah selesai 3 sapi disembelih, Kami segera menuju ke Salbo (Datu Saudi), untuk menyembelih 3 ekor sapi berikutnya. Di tengah perjalanan antara Madia dan Salbo kami menemukan suatu tempat dengan jalan kecil menuju pegunungan dengan kendaraan tentara yang banyak parkir di pinggir jalan. Ternyata inilah tempat pertempuran itu, jalan menuju gunung…….Tak berapa lama kami tiba di Salbo, mesjid sederhana dengan halaman khas perkampungan. Masyarakat langsung berkumpul, cukup banyak, disini ustad penyembelihnya sudah lebih canggih, mampu menggiring masyarakat untuk berdoa lama, Alhamdulillah. Proses penyembelihan berlangsung lancar dengan diselingi suara bom dan rentetan tembakan. Bom disini jauh lebih terasa suaranya dan getarannya karena lebih dekat dengan medan pertempuran. Namun Alhamdulillah kami semuanya, tim dan masyarakat acuh saja, bahkan Saya bercanda dengan brother habib bahwa Saya menghitung jumlah Bom dan sudah di angka 35 saat itu. Hingga tiba giliran sapi ke 2, tiba-tiba terdengar rentetan suara tembakan yang sangat keras dan lama, hampir semua masyarakat di lokasi kurban jongkok, menundukan badan, berteriak panik. Saya dan habib tadinya diam saja dan mencoba cool, toh menurut kita perangnya kan di gunung, walau suaranya sangat dekat, seperti pertempuran di jarak 100 meteran lah. Namun tiba-tiba saja ada seorang kakek tua berteriak keras ke arah saya dan habib seraya melambaikan tangan, menyuruh saya segera jongkok. Melihat hampir semua orang jongkok dan ajakan kakek tua itu yang sangat serius, Saya dan habib bukan hanya sekedar jongkok, namun segera lari pontang panting ke dalam mesjid. Yang ada dalam pikiran saat itu adalah bagaimana melindungi kepala supaya tidak tertembak, dan Saya tidak cukup yakin dengan jongkok bisa selamat. Ketika Saya mulai lari, habib pun berteriak, run run into the mosque! Setelah sekitar 2 menit tembakan berhenti, Kami semua tertawa, saling ejek dengan tingkah kepanikan masing-masing, hehehehe, mengapa Saya tidak berfikir tentang Allah ya saat itu? Setelah itu, pesawat-pesawat pengebom terus berseliweran tanpa henti, dan menjatuhkan bom dengan semangat kelihatannya diselingi oleh rentetan tembakan. Saya terus berfikir, ya Allah berapa korban yang akan jatuh dengan serangan seperti ini. Setelah selesai, Kami melanjutkan ke Pagatin 2, di Mahad Saadah Al Arabie, disini Kami hanya menyembelih 1 sapi.

Setelah itu, Kami menuju kembali ke Pagatin 1 untuk melihat proses distribusi. Beberapa pengungsi mendatangi saya dan mengucapkan terima kasih dalam bahasa Moro, Syukran, diadopsi dari bahasa Arab. Lanjut ke Madia, hampir sama, banyak pengungsi secara khusus mendatangi Saya dan mengucapkan terima kasih. Lanjut Ke Salbo, sepanjang proses ini suara bom terus terdengar dan selalu menjadi lebih jelas apabila mendekati Salbo. Di Salbo kami menyempatkan untuk menunaikan shalat Dzuhur terlebih dahulu. Bom terus berdentum, sampai-sampai di dalam masjid saya bertanya kepada habib, bagaimana kalau bom itu dijatuhkan kea rah masjid kita? Habib menjawab dengan santai, no problem, we become syahid, insya Allah. Tentu saja, secara normative itu sudah ada di kepala Saya, namun Saya terus membayangkan bagaimana jadinya kalau ada bom di mesjid ini. Karena saat sholat pun pesawat pengebom tidak istirahat, terus bekerja, dengan tembakan yang juga terus menyalak.

Setelah selesai menunaikan shalat, Habib terus berkata kepada Saya agar segera pergi, menurutnya suasana perang akan semakin gawat. Namun Saya masih ingat masih ada 2 sapi lagi, 1 ekor untuk di Damabalas, 1 ekor lagi untuk di Buayan. Brother Umar mengatakan kepada Saya bahwa 2 sapi tersebut akan disembelih besok, karena orang yang bertanggung jawab tidak ada. Saya katakan, setidaknya Saya harus melihat Sapinya terlebih dahulu, karena besok Saya tidak bisa menghadiri prosesi kurban.

Akhirnya kami meluncur ke Damabalas, sebuah sekolah/madrasah dengan 400 siswa dan 50 diantaranya adalah anak yatim piatu dengan orang tua meninggal karena perang. Mereka berasal dari beberapa tempat, Basilan, sebuah tempat yang terkenal dengan Abu Sayyaf nya, Datu Piang, dan lain-lain. Bagaimana dengan anak lain, dengan lingkungan seperti itu Saya bisa pastikan siswa lainnya pasti berasal dari keluarga miskin. Saat Saya datang, pintu gerbang sekolah saja dalam kondisi kebanjiran, sulit untuk lewat tanpa basah. MAdrasah tempat belajar, sangat seadanya, malah jadi kandang kambing sepertinya, karena ada 2 kambing diikat didalamnya. Ternyata itu adalah kambing sumbangan dari Saudi Arabia untuk kurban. Tahun lalu mereka menyumbang 4 ekor kambing, tahun ini hanya 2. Alhamdulillah, datang kurban dari DD 1 ekor sapi. Seperti layaknya panti asuhan di Indonesia, mereka hanya makan daging setahun sekali saat kurban seperti ini, sehari-hari mereka cukup makan sayuran dan paling banter ikan. DD menyetujui kurban disini bukan sekedar karena panti asuhan, namun mereka adalah korban perang, terlihat dari tatapan matanya sangat memendam kesedihan yang luar biasa, walau mereka berusaha tetap bermain. Melihat asramanya saya teringat asrama santri-santri Hidayatullah di Mentawai, sangat tidak layak. Disini akan dilakukan prosesi esok hari……….

Selanjutnya Kami melanjutkan perjalanan menuju Buayan, dahsyat juga terdapat pengungsian yang banyak di sebuah sekolah. Namun memang agak disayangkan, manajemen pengelolaan kurban disini kurang persiapan, pembagian kupon belum dilakukan. Sehingga setidaknya Saya pastikan daging kurban jatuh kepada orang yang tepat. Alhamdulillah daging dapat didistribusikan dengan tepat.

No comments: