Monday, January 5, 2009

MINDANAO SERI 4


9 Desember 2008 / 11 Dzulhijjah 1429

Direncanakan mengunjungi 2 titik terbesar dalam distribusi kurban, 12 ekor sapi dari 30 ekor, Madia (Datu Piang) dan Salbo (Dato Saudi). Untuk pemerataan, dari 2 titik ini diperlebar menjadi 6 titik. Dari 9 sapi yang direncanakan untuk Madia, Datu Piang dipecah menjadi 3 sapi tetap untuk MAdia evacuation centre, 3 Sapi untuk Pagatin evacuation centre, 1 sapi untuk di mahaad saadah al arabie (masih di sekitar Pagatin), 1 sapi untuk di Damabalas, sebuah sekolah dengan 50 anak yatim piatu orang tua meninggal karena korban perang, dan 1 sapi lagi untuk daerah Buayan. Untuk daerah Salbo (Datu Saudi) tetap dialokasikan 3 ekor sapi.

Ada hal yang aneh selama perjalanan, terdapat rombongan tentara dalam jumlah besar menuju arah yang sama dengan kami, bahkan terdapat beberapa kendaraan tank. Saya hanya berfikir mereka akan melakukan latihan di suatu tempat.

Tempat pertama prosesi kurban adalah di Pagatin, kami terpaksa melakukan prosesi di halaman tempat usaha pembuatan meubelair milik salah seorang warga, karena mitra khawatir terjadi kekacauan apabila dipaksakan di tempat pengungsian. Walau demikian, suasana tetap syahdu, cukup banyak warga yang berkumpul, apalagi bobot sapi yang lumayan besar membutuhkan banyak tenaga untuk prosesi. Jelas terlihat mereka sangat canggung membuat prosesi kurban, menggulingkan sapi saja membutuhkan waktu hampir 5 menit. Akhirnya berhasil juga. Setelah selesai 3 sapi disembelih, Kami segera meluncur ke Madia (Datu Piang) untuk melakukan prosesi serupa. Sebelum meninggalkan Pagatin, Sister Fatima, salah satu tim local berbisik kepada Saya, dia mendapat kabar bahwa sedang terjadi pertempuran, kontak senjata, tidak jauh dari lokasi ini. Saya menanggapi biasa saja, karena tidak terlihat dan terdengar apa pun. Sampai di Madia, suasana pengungsian lebih terasa, jumlah sangat banyak. Namun jelas terasa hampir sama dengan seluruh lokasi kurban di Mindanao, tidak ada atmosfer penyambutan yang luar biasa, karena mereka tidak terbiasa dengan ibadah kurban. Tidak pernah ada pekurban local yang berkurban di lokasi mereka sebelumnya dan di lokasi pengungsian ini. Namun setelah mereka melihat kami akan menyembelih sapi berduyun-duyun datang melihat. Di setiap tempat Saya berusaha menstimulus suasana dengan basmalah dan takbir, sebagai upaya mensosialisasikan ritual kurban. Alhamdulillah walau agak canggung mereka ikut juga.

Saat Kami sibuk melakukan prosesi kurban, sayup-sayup mulai terdengar suara ledakan, brother habib tanya, are you listen the bomb ya akhee? Thebomb? Is it a bomb? Tanya saya. Ternyata memang benar suara bom, terdengar berulang-ulang. Tapi masyarakat disini sepertinya sudah terbiasa dan terus memperhatikan ritual kurban. Setelah selesai 3 sapi disembelih, Kami segera menuju ke Salbo (Datu Saudi), untuk menyembelih 3 ekor sapi berikutnya. Di tengah perjalanan antara Madia dan Salbo kami menemukan suatu tempat dengan jalan kecil menuju pegunungan dengan kendaraan tentara yang banyak parkir di pinggir jalan. Ternyata inilah tempat pertempuran itu, jalan menuju gunung…….Tak berapa lama kami tiba di Salbo, mesjid sederhana dengan halaman khas perkampungan. Masyarakat langsung berkumpul, cukup banyak, disini ustad penyembelihnya sudah lebih canggih, mampu menggiring masyarakat untuk berdoa lama, Alhamdulillah. Proses penyembelihan berlangsung lancar dengan diselingi suara bom dan rentetan tembakan. Bom disini jauh lebih terasa suaranya dan getarannya karena lebih dekat dengan medan pertempuran. Namun Alhamdulillah kami semuanya, tim dan masyarakat acuh saja, bahkan Saya bercanda dengan brother habib bahwa Saya menghitung jumlah Bom dan sudah di angka 35 saat itu. Hingga tiba giliran sapi ke 2, tiba-tiba terdengar rentetan suara tembakan yang sangat keras dan lama, hampir semua masyarakat di lokasi kurban jongkok, menundukan badan, berteriak panik. Saya dan habib tadinya diam saja dan mencoba cool, toh menurut kita perangnya kan di gunung, walau suaranya sangat dekat, seperti pertempuran di jarak 100 meteran lah. Namun tiba-tiba saja ada seorang kakek tua berteriak keras ke arah saya dan habib seraya melambaikan tangan, menyuruh saya segera jongkok. Melihat hampir semua orang jongkok dan ajakan kakek tua itu yang sangat serius, Saya dan habib bukan hanya sekedar jongkok, namun segera lari pontang panting ke dalam mesjid. Yang ada dalam pikiran saat itu adalah bagaimana melindungi kepala supaya tidak tertembak, dan Saya tidak cukup yakin dengan jongkok bisa selamat. Ketika Saya mulai lari, habib pun berteriak, run run into the mosque! Setelah sekitar 2 menit tembakan berhenti, Kami semua tertawa, saling ejek dengan tingkah kepanikan masing-masing, hehehehe, mengapa Saya tidak berfikir tentang Allah ya saat itu? Setelah itu, pesawat-pesawat pengebom terus berseliweran tanpa henti, dan menjatuhkan bom dengan semangat kelihatannya diselingi oleh rentetan tembakan. Saya terus berfikir, ya Allah berapa korban yang akan jatuh dengan serangan seperti ini. Setelah selesai, Kami melanjutkan ke Pagatin 2, di Mahad Saadah Al Arabie, disini Kami hanya menyembelih 1 sapi.

Setelah itu, Kami menuju kembali ke Pagatin 1 untuk melihat proses distribusi. Beberapa pengungsi mendatangi saya dan mengucapkan terima kasih dalam bahasa Moro, Syukran, diadopsi dari bahasa Arab. Lanjut ke Madia, hampir sama, banyak pengungsi secara khusus mendatangi Saya dan mengucapkan terima kasih. Lanjut Ke Salbo, sepanjang proses ini suara bom terus terdengar dan selalu menjadi lebih jelas apabila mendekati Salbo. Di Salbo kami menyempatkan untuk menunaikan shalat Dzuhur terlebih dahulu. Bom terus berdentum, sampai-sampai di dalam masjid saya bertanya kepada habib, bagaimana kalau bom itu dijatuhkan kea rah masjid kita? Habib menjawab dengan santai, no problem, we become syahid, insya Allah. Tentu saja, secara normative itu sudah ada di kepala Saya, namun Saya terus membayangkan bagaimana jadinya kalau ada bom di mesjid ini. Karena saat sholat pun pesawat pengebom tidak istirahat, terus bekerja, dengan tembakan yang juga terus menyalak.

Setelah selesai menunaikan shalat, Habib terus berkata kepada Saya agar segera pergi, menurutnya suasana perang akan semakin gawat. Namun Saya masih ingat masih ada 2 sapi lagi, 1 ekor untuk di Damabalas, 1 ekor lagi untuk di Buayan. Brother Umar mengatakan kepada Saya bahwa 2 sapi tersebut akan disembelih besok, karena orang yang bertanggung jawab tidak ada. Saya katakan, setidaknya Saya harus melihat Sapinya terlebih dahulu, karena besok Saya tidak bisa menghadiri prosesi kurban.

Akhirnya kami meluncur ke Damabalas, sebuah sekolah/madrasah dengan 400 siswa dan 50 diantaranya adalah anak yatim piatu dengan orang tua meninggal karena perang. Mereka berasal dari beberapa tempat, Basilan, sebuah tempat yang terkenal dengan Abu Sayyaf nya, Datu Piang, dan lain-lain. Bagaimana dengan anak lain, dengan lingkungan seperti itu Saya bisa pastikan siswa lainnya pasti berasal dari keluarga miskin. Saat Saya datang, pintu gerbang sekolah saja dalam kondisi kebanjiran, sulit untuk lewat tanpa basah. MAdrasah tempat belajar, sangat seadanya, malah jadi kandang kambing sepertinya, karena ada 2 kambing diikat didalamnya. Ternyata itu adalah kambing sumbangan dari Saudi Arabia untuk kurban. Tahun lalu mereka menyumbang 4 ekor kambing, tahun ini hanya 2. Alhamdulillah, datang kurban dari DD 1 ekor sapi. Seperti layaknya panti asuhan di Indonesia, mereka hanya makan daging setahun sekali saat kurban seperti ini, sehari-hari mereka cukup makan sayuran dan paling banter ikan. DD menyetujui kurban disini bukan sekedar karena panti asuhan, namun mereka adalah korban perang, terlihat dari tatapan matanya sangat memendam kesedihan yang luar biasa, walau mereka berusaha tetap bermain. Melihat asramanya saya teringat asrama santri-santri Hidayatullah di Mentawai, sangat tidak layak. Disini akan dilakukan prosesi esok hari……….

Selanjutnya Kami melanjutkan perjalanan menuju Buayan, dahsyat juga terdapat pengungsian yang banyak di sebuah sekolah. Namun memang agak disayangkan, manajemen pengelolaan kurban disini kurang persiapan, pembagian kupon belum dilakukan. Sehingga setidaknya Saya pastikan daging kurban jatuh kepada orang yang tepat. Alhamdulillah daging dapat didistribusikan dengan tepat.

Sunday, December 21, 2008

Mindanao Edisi ke 3


8 Desember 2008 / 10 Dzulhijjah 1429
Jam 05.45 saya dijemput, harus segera menuju tempat shalat ied, di Cotabato City Hall. Kami tiba jam 06.00, tempat belum terlalu ramai, masih sepi.Seperti lazimnya di Indonesia, aktivitas diisi dengan takbir, yang uniknya dipimpin seperti vocal group, ada 4 orang berdiri di depan dengan standing mic tanpa mimbar. Sebelum dimulai, walikota memberikan sambutan, Dato Muslimin G Sema. Walikota memberikan sambutan dalam 2 bahasa, Moro dan Inggris. Penyampaian dalam bahasa Moro tanpa teks, ketika menyampaikan dalam bahasa Inggris menggunakan teks, saya perhatikan, awalnya isinya normative, mengingatkan tentang hakikat ibadah kurban, sampai di tengah sambutan, tiba tiba beliau menangis sebentar, lantas melanjutkan dengan kata-kata yang sangat tidak diduga, beliau mengatakan ungkapan dukungan kepada para mujahidin yang sedang berada di gunung, berperang dengan tentara Filipina. Saya sempat kaget, karena di luar sangat banyak tentara yang mengawal shalat iedul adha, sudah masuk kategori maker kalau di Indonesia. Saya bertanya kepada Habib, is it legal he said that? Habib hanya mengatakan he is legal person, so no problem he said like that.
Khatib menyampaikan khutbah dalam bahasa Moro, kelihatannya isinya normative juga, kecuali pada saat terakhir, nadanya meninggi dan terus menyebut-nyebut kata kata Moro. Langsung saya Tanya ke habib, habib menjawab, khatib mengatakan bahwa teruslah berjuang wahai bangsa Moro, untuk meraih kemerdekaan! Hebat juga, Di Aceh saja GAM tidak seperti itu sebelum MoU Helsinki ditandatangani.
Perjuangan bangsa muslim moro memang sangat sangat panjang. Hampir selama 40 tahun, contoh daerah dengan mayoritas Muslim, bahkan sampai tahun 1950 hampir 100% Muslim, saat ini 75%, Cotabato City, dipimpin oleh walikota beragama Kristen. Gelombang migrasi masyarakat Kristen dilukiskan seperti kran air, berdatangan terus, nama-nama jalan hampir tidak ada yang berasal dari bangsa Moro. Dengan perjalanan panjang, angkat senjata, diplomasi dan lain-lain, akhirnya terbentuklah ARMM (Autonomous Region Muslim Moro), yang saat ini walikota Cotabato City dipimpin oleh seorang Muslim, yang berasal dari faksi MNLF (Moro National Liberation Front), organisasi yang didirikan oleh Nur Misuari yang saat ini telah tinggal di Manila. MNLF sendiri telah kalah pamor oleh MILF (Moro Islamic Liberation Front) karena dinilai berkompromi dengan pemerintah Filipina. Kurang lebih mirip dengan antara PLO dan Hamas di Palestina.
Agustus tahun ini seyogyanya akan menjadi awal otonomi luas bagi bangsa Muslim Moro, dengan ditandatanganinya MOA AD (Memorandum of Agreement Ancestral Domain) antara Pemerintah dengan MILF di Malaysia. Sayangnya, MOA AD ini dibatalkan oleh Supreme Court Filipina, sehingga tidak berlaku. Inilah awal ulangan bencana bagi bangsa Muslim Moro, kontak senjata sering terjadi antara Mujahidin MILF dengan tentara Filipina. Akibat peperangan ini, sekitar 600.000 orang mengungsi yang tersebar di beberapa tempat pengungsian atau evacuation centre. Itulah alasan mengapa sepanjang jalan terus terlihat betapa banyak titik pengungsi dan juga check point tentara. Bagaimana ujungnya, belum terlihat……..Ini juga yang mendasari alasan saya harus dikawal polisi intelejen disini, for security, kata si polisi yang mengawal saya. Minusnya, gerakan menjadi terbatas, saya kerap dihubungi, baik via SMS maupun telepon oleh polisi-polisi ini apabila Saya jalan sendiri atau terdengar akan berencana jalan sendiri.
Setelah Shalat iedul Adha, Saya berkesempatan bertemu dengan walikota secara khusus di ruangannya. Beberapa hal kami bincangkan, mulai dari harapan beliau tentang masuknya investor ke Cotabato, sampai saya mengungkapkan kesedihan Saya dengan kondisi atmosfer ke Islaman yang kurang terlihat, padahal mayoritas masyarakat beragama Islam. Jarang terdengar adzan sahut menyahut, bahkan malam menjelang iedul adha tidak ada takbir sama sekali, malahan lebih heboh aktivitas gereja, dengan kembang apinya menyambut acara Immaculada Conception, Pra Natal. Saya sempat menyangka kembang api itu adalah menyambut iedul Adha.
Beliau menyadari tantangan dakwah tersebut. Saya ingin katakan bahwa sebagai tahapan awal sebaiknya dibuat suatu lembaga yang professional yang dapat menjalankan program-program untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat, seperti program-program LAZ di Indonesia. Beliau hanya fokus pada kekurangan dana untuk melaksanakan program, dan ketidakmungkinan mengandalkan dana dari internal Cotabato, seperti tidak mungkin menghimpun dana zakat di sini. Saya katakan bahwa dana bukan masalah, tahap awal bisa dari luar, hanya problemnya adakah lembaga di sini yang bisa dipercaya mengelola dana dari luar? Dipercaya karena kemampuannya/keahliannya dan keamanahannya. Untuk itulah Saya mewakili DD mengundang beliau untuk menghadiri World Zakah Forum di Yogyakarta pada tahun 2009.
Lembaga asing, jangan ditanya lagi, cukup banyak disini. Yang paling menonjol adalah USAID, JICA dan Rotary Club, insya Allah sudah terbaca lah apa maksudnya masuk ke Mindanao ini yang mayoritas muslim. Bayangkan, untuk membangun pasar square saja harus berasal dari USAID. Satu lokasi yang sempat saya kunjungi, pengungsian di Midsayap yang saya ceritakan di atas, mendapatkan bantuan dari OXFAM untuk pengadaan air dan sanitasinya. Dimanakah lembaga-lembaga islam sebagai Saudara mereka? Yang jelas tidak ada lembaga Islam yang eksis dengan kemampuan menggalang dana yang besar dari internal Filipina. Sudah sepantasnya lembaga Islam dari negara lain untuk membantu, tidak usah khawatir dicap teroris, tinggal bermain legal berhubungan dengan walikota atau birokrasi yang muslim.
Setelah itu saya menuju tempat penyembelihan kurban…
Magelco Evacuation Centre menjadi tujuan pertama Saya. Magelco adalah nama perusahaan listrik, disebut demikian karena dekat dengan lokasi penyedia listrik. Disini disembelih 4 sapi, 2 sapi untuk lokasi evacuation centre di Magelco, 2 lagi untuk di lokasi Kiteb. Alhamdulillah prosesi kurban berjalan lancer, begitu pun dengan distribusinya. Khusus di Kiteb, distribusi kurang lancer, terlihat masyarakat masih berebut dan kurang siapnya tim merespon situasi. Namun Alhamdulillah semua terkendali pada akhirnya. Saya langsung memimpin evaluasi intensif tentang kejadian ini dengan tim local. Lokasi kedua, bukan evacuation centre, di Biniruan, pelosok dari Cotabato City. Kedatangan langsung disambut oleh masyarakat, kaum Bapak dan anak-anak. Datang seorang Bapak dengan bahasa Indonesia yang cukup fasih, ternyata istrinya orang Indonesia, campuran keturunan Jawa dan Zamboanga. Tempat dengan hampir seluruhnya muslim ini belum pernah ada kurban! Padahal masih di Cotabato City. Mereka diajak untuk bertakbir sebelum prosesi kurban dilakukan. Terdengar asing bagi mereka, dan malu-malu mengikuti takbir. Setelah selesai, terlihat seorang Bapak dengan wajah preman berkaca-kaca, terlihat menahan tangis. Tak lupa mereka berpesan agar tahun depan dapat dilakukan prosesi kurban kembali.

Wednesday, December 10, 2008

MINDANAO EDISI KE 2


7 Desember 2008 / 9 Dzulhijjah 1429

1 Hari sebelum Iedul Adha……mencoba mendatangi beberapa titik yang tidak akan sempat dikunjungi pada saat penyembelihan. Terdapat 13 titik rencana sebaran hewan kurban :





  1. Tamontaka, Cotabato City, 1 Sapi
  2. Sapalan, Dato Oedin Sinsuat, Maguindanao, 1 Sapi
  3. Barrio Muslim, Guindulungan, Maguindanao, 1 Sapi
  4. Maitum A-ig, Shariff Aguak, Maguindanao, 2 sapi
  5. Pikit, North Cotabato, 2 sapi
  6. Midsayap, North Cotabato, 2 sapi
  7. Biniruan, Cotabato City, 1 sapi
  8. Magelco Evacuation Centre, 2 sapi
  9. Kiteb Evacuation Centre, 2 sapi
  10. Saibo, Dato Saudi, Maguindanao, 3 sapi
  11. Kakor, Cotabato City, 2 sapi
  12. Madia, Dato Piang, Maguindanao, 9 sapi
  13. Lumbatan, Lanao del Sur, 2 sapi

No 2 – 6 akan dikunjungi sebelum hari raya kurban

Perjalanan menuju 3 titik, Sapalan, Guindulungan, dan Maitum aig sharif, dari Cotabato City menuju arah kota General Santos. 2 hal yang banyak terlihat sepanjang perjalanan ini, evacuation centre, tempat para pengungsi di pinggir jalan, persis seperti di Aceh pasca Tsunami, dan check point atau pos pemeriksaaan oleh tentara Filipina. Dan ternyata jumlah tersebut belum seberapa, ketika masuk ke jalan kecil, masuk ke desa, akan ditemukan titik-titik pengungsian lagi dan beberapa markas kecil tentara.

Masuk ke daerah Sapalan, mobil tidak bisa sampai ke lokasi penyembelihan dan lokasi warga calon penerima manfaat. Akhirnya harus berjalan kaki selama kurang lebih 10 menit. Untuk melayani Saya, mungkin maksudnya mitra kita supaya tidak lelah karena dalam situasi shaum (Arafah, 9 Dzulhijjah), warga membawa 1 ekor Sapi itu ke tempat parkir mobil. Rupanya mereka belum paham kebiasaan kami dari DD, setelah Saya jelaskan, akhirnya Kami berjalan dan mengembalikan sapi ke tempatnya semula dan Saya dapat melihat komunitas calon penerima manfaat. Nun jauh di ujung desa terdapatlah pemukiman sederhana dengan masjid yang sangat sederhana, di masjid inilah akan dilakukan proses penyembelihan dan pembagian hewan kurban. Terdapat 40-50 KK calon penerima manfaat.

Setelah itu kami menuju ke Guindulungan, sepanjang perjalanan lagi-lagi ditemukan betapa banyak evacuation centre dan check point. Tempat pengungsian calon penerima manfaat tak dapat ditempuh dengan mobil, harus berjalan kaki, namun sangat jauh, lebih dari 1 jam perjalanan. Dengan waktu yang terbatas, Kami memutuskan tidak mengunjungi tempat penyembelihan, namun setidaknya sapi sudah diverifikasi. Demikian pula dengan kawasan Maitum A-ig Shariff Aguak. Disini disalurkan 2 sapi, karena jumlah keluarga di evacuation centre lebih banyak.

Setelah istirahat siang hari, kami meluncur ke Pikit, Sebelah Utara Cotabato, kami meluncur ke arah Davao City. Satu jam perjalanan kami menuju Pikit, 2 sapi sudah tersedia di Pikit, langsung mengunjungi lokasi penerima manfaat. Jalan terputus oleh sungai yang mengalir, mobil tidak bisa lewat, akhirnya harus berjalan kaki, ternyata banyak sekali pengungsi di dalam, setelah melewati sungai. Mitra di sana berencana menyembelih di lokasi pinggir jalan agar tidak kesulitan membawa sapi ke lokasi pengungsian. Lalu tinggal mendistribusikan mentahnya ke pengungsian. Hal ini segera saya ralat, karena kurang sesuai dengan misi program THK, saya jelaskan bahwa THK tidak hanya sekedar membagi daging kurban, namun juga berupaya menumbuhkan spirit dan semangat dan semarak hari raya kurban di komunitas, sehingga saya berharap sapi dapat dibawa melewati rintangan agar dapat menambah ruh dan semangat hari raya bagi warga di pengungsian. Alhamdulillah mitra di sana paham dan akan segera merubah rencana aktivitasnya.

Segera kami meluncur ke Midsayap, salah satu daerah yang sering terjadi kontak senjata, karena waktu menjelang maghrib……….

1 jam perjalanan mobil menuju Midsayap, dilanjutkan dengan 20 menit perjalanan kaki, karena harus mobil off road yang dapat masuk ke lokasi pengungsian disana.

Ternyata warga di sana belum pernah mengadakan penyembelihan hewan kurban, DD melalui THK telah memulai prosesi kurban disana. Saya sampaikan bahwa ini sebagai bentuk persaudaraan dari Muslim Indonesia, walau di Indonesia masih banyak Saudara yang miskin, namun kami tetap ingin berbagi dengan Saudara di Mindanao, dengan bangsa Muslim Moro.

Tugas panjang berikutnya menanti, dakwah bagi masyarakat muslim Moro. Anak-anak di pengungsian masih tidak tersentuh dengan dakwah, mesjid masih kosong dikala waktu shalat. Masih banyak yang belum bisa membaca AlQuran, tidak ada TPA di pengungsian…..

Insya Allah kurban saat ini akan menjadi stimulus dakwah di sana…………….

Sunday, December 7, 2008


Menuju MINDANAO Province, South of Philipine……………..

Tanggal 5 Desember 2008, 7 Dzulhijjah 1429

Mengantri yang sangat melelahkan di depan counter check in, beberapa orang Filipina menunjukan tabiat yang lagi-lagi Saya merasa bangga dengan bangsa ini, mereka menyodok antrian dengan memanfaatkan teman-temannya, termasuk artis Mari Beth.

Masuk pesawat yang mirip dengan Air Asia, atau Lion Air. Pramugara dan Pramugari menggunakan baju casual. Direncanakan terbang jam 00.35, akhirnya terbang jam 01.30. Cukup banyak aktivitis gereja Catholic dari Indonesia yang berangkat ke Filipina.

6 Desember 2008, 8 Dzulhijjah 1429

Mendarat di Filipina jam 06.00 waktu Filipina, atau 05.00 Waktu Indonesia Barat. Terminal 3 Bandara Ninoy Aquino, merupakan terminal kelas 2, namun tetap nyaman dibanding terminal 1 bandara Soekarno Hatta.

Imigrasi cukup longgar tidak seketat seperti di Hongkong, tanpa menulis alamat tinggal pun tidak masalah, begitu pula pabean, walau saya sudah mengakui membawa makanan dari Indonesia, biar irit, seperti pesan Bos THK, Saya mencoba membawa mie instan dan biscuit dari Indonesia.

Pesawat baru akan berangkat jam 10.00, kebutuhan komunikasi menjadi sangat penting, Saya mencoba mencari untuk membeli SIM CARD. Setelah berkeliling tidak ditemukan, akhirnya saya mendatangi 2 orang gadis staf di bandara untuk menanyakan tempat membeli SIM CARD. Tanpa diduga kedua gadis tersebut berusaha sangat keras mengantar saya untuk menemukan penjual SIM CARD. Saya diantar terus berkeliling, sambil mengobrol banyak hal. Obrolan pertama jelas, mereka menyangka Saya orang Filipina, sama seperti ketika saya check in di terminal domestic, penerbangan dari Manila menuju Cotabato City, petugas check in langsung nyerocos dalam bahasa tagalong. Akhirnya 2 gadis tersebut menanyakan tujuan saya, ketika Saya jawab ke Cotabato, mereka langsung bertanya, are you muslim or Christian? Jelas Saya jawab, Saya Muslim, lantas mereka bertanya, apa yang hendak saya lakukan disana? Saya menjawab ingin mengunjungi teman, sambil melihat-lihat peluang berbisnis, bisnis peternakan. Saya jelaskan tentang ibadah dalam agama Islam, Qurban, menyembelih hewan kurban dan membagikan dagingnya kepada orang miskin. Mereka langsung menyambar, I am poor too, so I can get the meat……

Mereka lantas berdiskusi berdua dan melanjutkan pertanyaan yang artinya, “Bukankah di Cotabato sering ada perang?” Apakah Kamu tidak takut berangkat ke sana? Saya jawab, tidak, karena saya akan dikawal Polisi setempat dan mendapatkan surat disposisi dari walikota Cotabato. Saya lantas balik bertanya, Pernahkah Anda ke Cotabato? Mereka menjawab belum pernah, dan tidak mau, karena takut mati terbunuh karena perang. Berulang kali mereka mengingatkan Saya untuk berhati-hati, sampai SMS terakhir pun dari salah seorang dari mereka yang lebih aktif, Miss Jeanette Vasquez, mengingatkan saya untuk berhati-hati, ucapan semoga selamat, sampai ungkapan bahwa dia turut berdoa kepada Tuhan agar Saya selamat.

Terus terang hal ini membuat bingung, ada apa sebenarnya di Cotabato? Apalagi ternyata memang tidak banyak penumpang ke Cotabato, pesawat tidak terlalu penuh, dan cukup banyak penumpang dengan penampilan tradisional, bahkan sebagian penumpang yang saya ajak ngobrol ternyata tidak bisa berbahasa Inggris, cukup aneh di Filipina seperti ini, atau memang bahasa Inggris Saya terlalu jungle unrtuk dipahami.

Setelah tertidur sejam lebih, akhirnya sampai juga di Cotabato. Betapa kagetnya Saya, ternyata bandaranya merupakan bandara militer dengan papan nama “Tactic Operation XII”. Bandara dan lingkungan sekitar mengingatkan saya seperti di Timika, Meulaboh atau Maumere. Sebagai salah satu kota besar di Filipina, sangatlah tidak representative kondisi bandara tersebut. Saya lebih tercengang lagi ketika mengetahui di depan bandara militer tersebut merupakan markas militer yang cukup besar, seperti kondisi yang sering saya jumpai di NAD.

Di Bandara, mata saya tertuju kepada seorang berpakaian menggunakan baju koko Pakistan, dengan peci hajinya yang membentangkan karton dengan tulisan nama Saya yang sangat besar. Saya biasa saja melihatnya, karena memang saya paham organisasi yang bekerja sama dengan DD, MTWA adalah organisasi Islam. Saya agak kaget ketika 2 orang disamping brother Abdul Ghofur, pria tersebut, mengenalkan diri sebagai anggota polisi setempat, Hendri dan Jack. Brother Umar, pimpinan MTWA yang juga ikut menjemput Saya menambahkan bahwa mereka dari satuan intelejen di kepolisian Cotabato City. Akhirnya kami keluar bandara dan ternyata memang Saya menemukan kondisi seperti di NAD seperti sebelum tsunami, banyak tentara dan pos pemeriksaan. Sampai di perkotaan, suasana sangat ramai dan sangat tradisional, jauh lebih tradisional dibanding kota Banda Aceh. Saya sampai di Hotel El Manuel, hotel dengan dekorasi kental dengan nuansa natal dan saya menyangka pemiliknya adalah pemeluk agama Kristen yang sangat taat. Ternyata bukan seperti itu……..Di sana saya bertemu brother Habib, mengenalkan diri sebagai salah satu pengurus MTWA. Brother Habib yang mengajak Saya untuk berkeliling, diawali dengan Shalat Maghrib di salah satu mesjid besar berbasis pasar, dan ke 2 mesjid lainnya, serta ke 2 madrasah. Saya terharu, karena sholat Maghrib disini menggunakan doa qunut, dan menurut kabar, memang dalam shalat 5 waktu, mesjid – mesjid menggunakan doa qunut pada rakaat terakhir. Hal ini sudah cukup bagi Saya untuk menunjukkan bahwa terdapat suasana ketertindasan bagi kaum Muslim, dan menganggap situasi dalam keadaan darurat perang, sama seperti dahulu Rasulullan menganjurkan qunut Nazilah dalam shalat lima waktu ketika suasana perang (tewasnya puluhan huffazh oleh kaum kafir). Sepanjang perjalanan Saya berkeliling dengan sepeda motor, suasana yang membuat termenung, memang kondisi penduduk yang mayoritas Muslim sangat memprihatinkan, hampir seluruh sudut kota seperti yang biasa Saya lihat di daerah kumuh di Jakarta. Pemandangannya seperti daerah padat, kumuh yang luas, merata di seluruh kota.

Ba’da Saya menunaikan shakat Maghrib, Saya tengok ke luar, anak-anak dan masyarakat tumpah ruah bermain di jalanan. Sayangnya mesjid tempat Saya Sholat terlihat kosong jamaah. Ternyata kemusliman mereka masih perlu dikuatkan, mereka akan marah bila disebut non muslim, namun mereka sendiri belum menjalankan ibadah islam setidaknya yang wajib-wajib, serta tidak Saya temukan suasana TPA anak-anak……………..

Pada kesempatan ini pula saya bertemu dengan tim teknis Qurban dari MTWA, Saya mulai menjelaskan teknis-teknis pelaksanaan Qurban versi THK. Saya jelaskan tentang pentingnya transparansi, membuat ikhlas dan nyaman bagi para pekurban melalui DD, tentang bagaimana mengisi form laporan, bagaimana mengambil gambar hewan kurban sebelum dan sesudah penyembelihan, dll.

Direncanakan terdapat 13 titik kurban di Mindanao, hampir seluruhnya adalah kamp pengungsian karena perang, Evacuation Centre, 1 diantaranya terletak agak jauh dari Cotabato City (10 jam perjalanan darat). Dengan waktu yang terbatas, Saya direncanakan mengunjungi 6 titik penyembelihan pada hari raya ied dan hari pertama tasyrik, 1 lokasi tidak dapat saya kunjungi karena 10 jam perjalanan darat, dan sisanya akan Saya kunjungi pada 1 hari sebelum hari raya iedul Adha untuk memastikan bahwa benar mereka telah menyiapkan sapi dan pra syarat sapi sudah memenuhi kriteria THK, serta yang juga penting melakukan verifikasi terhadap masyarakat/komunitas yang akan mendapatkan manfaat hewan kurban

Selamat


Assalammualaikum

welcome in my blog, simple blog, do not hope you'll get everything here..........
It's just Blog..........................if you like it, just read, If you don't, tell me to improve.....
Thanks Syukron Terima Kasih

wassalam
Veldy