
Menuju MINDANAO Province, South of Philipine……………..
Tanggal 5 Desember 2008, 7 Dzulhijjah 1429
Mengantri yang sangat melelahkan di depan counter check in, beberapa orang Filipina menunjukan tabiat yang lagi-lagi Saya merasa bangga dengan bangsa ini, mereka menyodok antrian dengan memanfaatkan teman-temannya, termasuk artis Mari Beth.
Masuk pesawat yang mirip dengan Air Asia, atau Lion Air. Pramugara dan Pramugari menggunakan baju casual. Direncanakan terbang jam 00.35, akhirnya terbang jam 01.30. Cukup banyak aktivitis gereja Catholic dari Indonesia yang berangkat ke Filipina.
6 Desember 2008, 8 Dzulhijjah 1429
Mendarat di Filipina jam 06.00 waktu Filipina, atau 05.00 Waktu Indonesia Barat. Terminal 3 Bandara Ninoy Aquino, merupakan terminal kelas 2, namun tetap nyaman dibanding terminal 1 bandara Soekarno Hatta.
Imigrasi cukup longgar tidak seketat seperti di Hongkong, tanpa menulis alamat tinggal pun tidak masalah, begitu pula pabean, walau saya sudah mengakui membawa makanan dari Indonesia, biar irit, seperti pesan Bos THK, Saya mencoba membawa mie instan dan biscuit dari Indonesia.
Pesawat baru akan berangkat jam 10.00, kebutuhan komunikasi menjadi sangat penting, Saya mencoba mencari untuk membeli SIM CARD. Setelah berkeliling tidak ditemukan, akhirnya saya mendatangi 2 orang gadis staf di bandara untuk menanyakan tempat membeli SIM CARD. Tanpa diduga kedua gadis tersebut berusaha sangat keras mengantar saya untuk menemukan penjual SIM CARD. Saya diantar terus berkeliling, sambil mengobrol banyak hal. Obrolan pertama jelas, mereka menyangka Saya orang Filipina, sama seperti ketika saya check in di terminal domestic, penerbangan dari Manila menuju Cotabato City, petugas check in langsung nyerocos dalam bahasa tagalong. Akhirnya 2 gadis tersebut menanyakan tujuan saya, ketika Saya jawab ke Cotabato, mereka langsung bertanya, are you muslim or Christian? Jelas Saya jawab, Saya Muslim, lantas mereka bertanya, apa yang hendak saya lakukan disana? Saya menjawab ingin mengunjungi teman, sambil melihat-lihat peluang berbisnis, bisnis peternakan. Saya jelaskan tentang ibadah dalam agama Islam, Qurban, menyembelih hewan kurban dan membagikan dagingnya kepada orang miskin. Mereka langsung menyambar, I am poor too, so I can get the meat……
Mereka lantas berdiskusi berdua dan melanjutkan pertanyaan yang artinya, “Bukankah di Cotabato sering ada perang?” Apakah Kamu tidak takut berangkat ke sana? Saya jawab, tidak, karena saya akan dikawal Polisi setempat dan mendapatkan surat disposisi dari walikota Cotabato. Saya lantas balik bertanya, Pernahkah Anda ke Cotabato? Mereka menjawab belum pernah, dan tidak mau, karena takut mati terbunuh karena perang. Berulang kali mereka mengingatkan Saya untuk berhati-hati, sampai SMS terakhir pun dari salah seorang dari mereka yang lebih aktif, Miss Jeanette Vasquez, mengingatkan saya untuk berhati-hati, ucapan semoga selamat, sampai ungkapan bahwa dia turut berdoa kepada Tuhan agar Saya selamat.
Terus terang hal ini membuat bingung, ada apa sebenarnya di Cotabato? Apalagi ternyata memang tidak banyak penumpang ke Cotabato, pesawat tidak terlalu penuh, dan cukup banyak penumpang dengan penampilan tradisional, bahkan sebagian penumpang yang saya ajak ngobrol ternyata tidak bisa berbahasa Inggris, cukup aneh di Filipina seperti ini, atau memang bahasa Inggris Saya terlalu jungle unrtuk dipahami.
Setelah tertidur sejam lebih, akhirnya sampai juga di Cotabato. Betapa kagetnya Saya, ternyata bandaranya merupakan bandara militer dengan papan nama “Tactic Operation XII”. Bandara dan lingkungan sekitar mengingatkan saya seperti di Timika, Meulaboh atau Maumere. Sebagai salah satu kota besar di Filipina, sangatlah tidak representative kondisi bandara tersebut. Saya lebih tercengang lagi ketika mengetahui di depan bandara militer tersebut merupakan markas militer yang cukup besar, seperti kondisi yang sering saya jumpai di NAD.
Di Bandara, mata saya tertuju kepada seorang berpakaian menggunakan baju koko Pakistan, dengan peci hajinya yang membentangkan karton dengan tulisan nama Saya yang sangat besar. Saya biasa saja melihatnya, karena memang saya paham organisasi yang bekerja sama dengan DD, MTWA adalah organisasi Islam. Saya agak kaget ketika 2 orang disamping brother Abdul Ghofur, pria tersebut, mengenalkan diri sebagai anggota polisi setempat, Hendri dan Jack. Brother Umar, pimpinan MTWA yang juga ikut menjemput Saya menambahkan bahwa mereka dari satuan intelejen di kepolisian Cotabato City. Akhirnya kami keluar bandara dan ternyata memang Saya menemukan kondisi seperti di NAD seperti sebelum tsunami, banyak tentara dan pos pemeriksaan. Sampai di perkotaan, suasana sangat ramai dan sangat tradisional, jauh lebih tradisional dibanding kota Banda Aceh. Saya sampai di Hotel El Manuel, hotel dengan dekorasi kental dengan nuansa natal dan saya menyangka pemiliknya adalah pemeluk agama Kristen yang sangat taat. Ternyata bukan seperti itu……..Di sana saya bertemu brother Habib, mengenalkan diri sebagai salah satu pengurus MTWA. Brother Habib yang mengajak Saya untuk berkeliling, diawali dengan Shalat Maghrib di salah satu mesjid besar berbasis pasar, dan ke 2 mesjid lainnya, serta ke 2 madrasah. Saya terharu, karena sholat Maghrib disini menggunakan doa qunut, dan menurut kabar, memang dalam shalat 5 waktu, mesjid – mesjid menggunakan doa qunut pada rakaat terakhir. Hal ini sudah cukup bagi Saya untuk menunjukkan bahwa terdapat suasana ketertindasan bagi kaum Muslim, dan menganggap situasi dalam keadaan darurat perang, sama seperti dahulu Rasulullan menganjurkan qunut Nazilah dalam shalat lima waktu ketika suasana perang (tewasnya puluhan huffazh oleh kaum kafir). Sepanjang perjalanan Saya berkeliling dengan sepeda motor, suasana yang membuat termenung, memang kondisi penduduk yang mayoritas Muslim sangat memprihatinkan, hampir seluruh sudut kota seperti yang biasa Saya lihat di daerah kumuh di Jakarta. Pemandangannya seperti daerah padat, kumuh yang luas, merata di seluruh kota.
Ba’da Saya menunaikan shakat Maghrib, Saya tengok ke luar, anak-anak dan masyarakat tumpah ruah bermain di jalanan. Sayangnya mesjid tempat Saya Sholat terlihat kosong jamaah. Ternyata kemusliman mereka masih perlu dikuatkan, mereka akan marah bila disebut non muslim, namun mereka sendiri belum menjalankan ibadah islam setidaknya yang wajib-wajib, serta tidak Saya temukan suasana TPA anak-anak……………..
Pada kesempatan ini pula saya bertemu dengan tim teknis Qurban dari MTWA, Saya mulai menjelaskan teknis-teknis pelaksanaan Qurban versi THK. Saya jelaskan tentang pentingnya transparansi, membuat ikhlas dan nyaman bagi para pekurban melalui DD, tentang bagaimana mengisi form laporan, bagaimana mengambil gambar hewan kurban sebelum dan sesudah penyembelihan, dll.
Direncanakan terdapat 13 titik kurban di Mindanao, hampir seluruhnya adalah kamp pengungsian karena perang, Evacuation Centre, 1 diantaranya terletak agak jauh dari Cotabato City (10 jam perjalanan darat). Dengan waktu yang terbatas, Saya direncanakan mengunjungi 6 titik penyembelihan pada hari raya ied dan hari pertama tasyrik, 1 lokasi tidak dapat saya kunjungi karena 10 jam perjalanan darat, dan sisanya akan Saya kunjungi pada 1 hari sebelum hari raya iedul Adha untuk memastikan bahwa benar mereka telah menyiapkan sapi dan pra syarat sapi sudah memenuhi kriteria THK, serta yang juga penting melakukan verifikasi terhadap masyarakat/komunitas yang akan mendapatkan manfaat hewan kurban

2 comments:
serru ceritanya
makin asik bacanya
keren jg fotonya....hehehe
oia,tong hilap nyandak oleh2. biasana kalau udah ceritanya bagus...oleh2na oge bagusss..hehehe.hd
Post a Comment